Pendahuluan »

Kata Pengantar

Akhir tahun 2004 ditandai oleh kejadian gempabumi sangat kuat di Aceh dan menimbulkan tsunami sangat hebat yang membawa korban jiwa dan orang hilang lebih dari seperempat juta di wilayah sekitar India. Tragedi kemanusiaan akhir tahun tersebut mendapatkan tanggapan luar biasa dari masyarakat Indonesia dan dunia, baik dalam upaya untuk memberikan bantuan bagi masyarakat Aceh dan Sumatera Utara yang terkena musibah maupun usaha untuk mengurangi dampak bencana tsunami di waktu mendatang, tidak hanya di wilayah Aceh namun seluruh wilayah Indonesia. Usaha dimaksud adalah dengan pembangunan Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia atau Indonesia Tsunami Early Warning System yang disingkat InaTEWS.

InaTEWS merupakan proyek nasional yang melibatkan berbagai institusi dalam negeri di bawah koordinasi Kementerian Negara Riset dan Teknologi (RISTEK), Institusi lain yang terlibat antara lain : Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Kemkokesra), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (BAPPENAS, Kementerian Komunikasi dan Informasi (KEMKOMINFO), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Polisi Republik Indonesia (POLRI), Kementerian Dalam Negeri (KEMDAGRI), Kementerian Luar Negeri (KEMLU), Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), dan serta dukungan tenaga-tenaga ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB). BMKG, BAKOSURTANAL dan BPPT merupakan institusi teknis yang melaksanakan operasional pengamatan unsur-unsur gempabumi, gerakan kerak bumi dan perubahan permukaan air laut, sedangkan Kementerian Negara Ristek, LIPI, DEPDAGRI dan BNPB melaksanakan peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat. Peran Pemerintah Daerah sangat besar baik dalam pembangunan system operasionalnya apalagi pada peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat.

Pembangunan InaTEWS dilakukan Pemerintah RI melalui berbagai institusi tersebut di atas dan mendapatkan bantuan yang cukup signifikan dari negara dan organisasi donor, yang meliputi : Pemerintah Jerman, Cina, Jepang, Amerika, Perancis, UNESCO, UNDP, UNOCHA, ISDR, dll. Jerman memberikan kontribusi pada pembangunan InaTEWS dari hulu sampai ke hilir, yang meliputi sistem pemantauan, pengolahan dan analisa, penyebaran, pembangunan kapasitas, peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat.

InaTEWS saat ini sudah beroperasional meskipun belum semua sistemnya terpasang dengan sempurna. Sistem pemantauan muka tengah laut baru 3 terpasang dari rencana 23, sistem support untuk pengambilan keputusan (Decission Support System - DSS) juga masih memerlukan penyempurnaan. Demikian pula dengan peningkatan kapasitas SDM. Langkah lanjut setelah peresmian InaTEWS adalah pembangunan sistem maintenance/pemeliharaan dan pembangunan sistem backup sebagai antisipasi manakala secara tiba-tiba sistem utama early warning "off". Setelah melalui operasional pendahuluan yang cukup panjang yakni mulai pertengahan tahun 2005, maka tiba InaTEWS diluncurkan pada bulan November 2008 oleh Presiden Republik Indonesia.

Kita semua tahu dan yakin bahwa tsunami pasti akan terjadi lagi di bumi pertiwi ini, hanya kapan, di mana dan berapa besarnya yang kita tidak tahu. Harapannya adalah InaTEWS benar-benar bermanfaat semaksimal mungkin dan memberikan peringatan dini tsunami sebelum kedatangan sehingga bisa meminimkan jumlah korban jiwa.

Selanjutnya manfaat InaTEWS tidak hanya bagi masyarakat Indonesia, namun juga masyarakat internasional baik yang berada di kawasan ASEAN, di sekitar Samudera India maupun Pasifik Baratdaya dan Laut Cina Selatan.

Semoga kiranya informasi tersebut bisa menambah pengetahuan para pembaca untuk diterapkan pada kondisi darurat.

Copyright ©2017
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika