Konsep & Desain InaTEWS »

Peran Serta Multi Instansi & Multi Nasional

Pendirian InaTEWS adalah suatu program nasional dan terimplementasikan dibawah koordinasi Kementerian Negara Riset dan Teknologi dan melibatkan 16 instansi nasional lainnya yaitu: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian Kelautan dan Perikanan (DKP), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri), Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Kementerian Negara Riset dan Teknologi (Ristek), Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Negara Lingkungan Hidup (LH), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Institut Teknologi Bandung (ITB), Polisi RI (Polri), dan dibawah payung Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat.

Kementerian/Instansi kunci adalah:


Gambar 12. Institusi yang Terlibat dalam InaTEWS

Kementerian Negara Riset dan Teknologi (Ristek) :
InaTEWS penuh dengan aplikasi teknologi tinggi, berawal dari sensor yang sangat sensitif dan dapat diandalkan sampai ke kebutuhan akan ICT untuk data dan informasi dan sistem prosessing, pengembangan sumber daya manusia dan alih teknologi. Ini merupakan salah satu tugas dari Ristek untuk mengadopsi kecanggihan teknologi dari InaTEWS kedalam kebudayaan Indonesia.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG):
BMKG bertanggung jawab terhadap sistem monitoring seismik dan operasional Tsunami Early Warning Center. Sebelum kejadian Desember 2004, BMKG telah beropersi dengan 30 stasiun Geofisika dan 5 Balai Wilayah dilengkapi dengan 27 sensor seismik remote.

Untuk mempercepat instalasi dari sensor seismik broadband BMKG memasang sebagian sensor seismik di fasilitas stasiun BMKG, dengan dasar pertimbangan bahwa tsunami hanya akan terjadi oleh gempa kuat. Untuk langkah pertama banyak sensor dilokasikan di stasiun BMKG, dimana pada umumnya dilokasi tersebut tidak cukup tenang untuk penempatan sensor seismik, untuk itu analisis kualitas data sangat diperlukan dan apabila kualitas stasiun dibawah standard minimum maka memungkinkan untuk direlokasi. BMKG merupakan badan yang bertanggungjawab sebagai Operational Center, yaitu bertugas untuk mengumpulkan dan memproses semua data seismik, menentukan lokasi gempabumi, menganalisa apakah gempa itu berpotensi tsunami, menginformasikan gempabumi dan tsunami warning, mengintegrasikan data observasi lain untuk konfirmasi atau pernyataan warning berakhir.


Gambar 13. Pembagian Tugas Institusi Terkait InaTEWS

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT):
Bertanggungjawab untuk penempatan dan pengoperasian buoys dimana datanya akan dikirim dari buoys ke BMKG dan BPPT. Badan ini mengoperasikan kapal riset Baruna Jaya, untuk keperluan instalasi, perawatan, relokasi buoys. BPPT juga bertanggungjawab untuk run up tsunami modelling.

Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal):
Bakosurtanal bertanggungjawab untuk instalasi dan pengoperasian tide gauges dan jaringan GPS. Sebelum kejadian gempabumi dan tsunami Desember 2004 Bakosurtanal sudah mengoperasikan 60 stasiun tide gauges terdiri dari 35 stasiun analog dan 25 stasiun digital. Stasiun-stasiun tersebut belum beroperasi secara real time baik itu ke Bakosurtanal maupun ke BMKG. Sama halnya dengan jaringan GPS yang terdiri dari 9 stasiun dan masih berdiri sendiri. Data tide gauges dan data GPS akan dikirimkan ke BMKG secara near real time untuk meningkatkan akurasi warning.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI):
Bertanggungjawab untuk menyiapkan modul untuk kesiagaan dan kesiapan publik. LIPI telah melakukan beberapa pekerjaan lapangan untuk sosialisasi dan menginformasikan kepada pemerintah daerah dan komunitas rawan bencana tentang kemungkinan gempabumi yang berpotensi tsunami. Instansi ini juga bertanggungjawab untuk mengadakan penelitian dibidang geo-science dan juga segala sesuatu tentang tsunami.

Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informatika:
Semua media masa dan operator telekomunikasi dibawah pembinaan departemen ini. Dengan demikian instansi ini memiliki peran sangat penting dalam hal sistem pengumpulan data dan diseminasi warning.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB):
Kegiatan-kegiatan terkait dengan tanggap darurat, mitigasi, rehabilitasi dan rekonstruksi menjadi tanggung jawab lembaga ini. BNPB juga menjadi salah satu insititusi yang berkewajiban menyebarluaskan peringatan dini.

Kementerian Dalam Negeri:
Pemerintah daerah berada dibawah koordinasi dari departemen ini, maka program untuk pendidikan publik, kesiapsiagaan publik dilakukan melalui departemen ini.

Polisi Republik Indonesia (POLRI):
POLRI memiliki jaringan komunikasi yang sangat baik dari Markas Besar POLRI ke jajaran Polisi Daerah (POLDA) serta Polres-Polres. Fasilitas tersebut dimanfaatkan untuk kirim peringatan dini tsunami ke daerah-daerah yang berpotensi tsunami.

Institut Teknologi Bandung (ITB):
Jajaran ITB bertanggungjawab untuk menyiapkan database tsunami yang akan diinstalasikan kedalam dalam Pusat Database Tsunami di BMKG. Sebagai lembaga pendidikan ITB juga bertanggungjawab untuk penyiapan dan peningkatan sumber daya manusia.

 

Peran Serta Institusi Multi Nasional

Pendirian InaTEWS dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia dan didukung kuat oleh negara-negara donor, organisasi internasional, NGO, antara lain :

-Jerman, melalui proyek German Indonesia Tsunami Early Warning System (GITEWS) project, terlibat dalam pengembangan sistem monitoring, pusat operasional, telekomunikasi, pembangunan kapasitas (sumber daya manusia, penelitian dan sebagainya).
-China melalui Indonesia China (Seismic) Digital Network - ICDN, terlibat dalam bagian seismik monitoring sistem, pusat operasional BMKG, telekomunikasi, pembangunan kapasitas.
-Jepang, melalui real time Japan Indonesia Seismic Network (JISNET), terlibat dalam bagian seismik monitoring system. Melalui Jepang membantu dalam pengembangan pusat operasional dan pembangunan kapasitas.
-Perancis, terlibat dalam peningkatan jaringan seismik dan deteksi tsunami (Tremors).
-USA, USAID melalui multi institutions terlibat dalam monitoring sea level, pembangunan kapasitas, menyelenggarakan workshop dan kunjungan tingkat lokal, nasional, dan internasional. USTDA dalam bentuk dukungan teknis.
-UNESCO, IOC, ITIC mendukung untuk infrastruktur, pembangunan kapasitas, dukungan teknis.
-CTBTO, dukungan data seismik.
-IFRC, mendukung dalam pembangunan kapasitas.
Copyright ©2018
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika